Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA
Kata Pengantar
A. Puncak Kemerosotan Politik Islam
Keruntuhan Turki Utsmani dan penghapusan
sistem Khilafah oleh Kemal Attaturk tahun 1924 merupakan klimaks kemerosotan
politik islam. Dunia islam semakin tercabik dengan adanya kolonialisme barat.
Makna penting PD I bagi dunia Muslim adalah kematian Kesultanan Utsmaniyah yang
mengakhiri lembaga kekhalifahan yang telah berumur 1300 tahun. Meskipun
kekhilafan kesultanan Utsmaniyah tidak sepenuhnya mencerminkan moralitas Islam,
tetap menjadi pukulan politik terhadap muslimin. Rasulullah SAW dalam hadist
yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi memberi isyarat tentang periodesasi
perjalanan umatnya.
1. Nabuwwah, yaitu periode dimana muslimin hidup
bersama Rasulullah.
2. Khilafah atas minhaj Nabuwwah, yaitu masa
khulafaur Rasyidin selama 30 tahun.
3. Mulkan ‘Adhon, periode dimana pada raja dan
penguasa menindas walaupun masih berdasarkan sistem islam dari berakhirnya
Khulafaur Rasyidin sampai berakhirnya Kesultanan Utsmaniyah. Dinasti yang ada
adalah dinasti Umayyah dan Abbasiyyah.
4. Mulkan Jabbariyyah, sistem penguasa atau raja-raja
yang sekuler, kita sekarang berada pada periode ini. Setelah periode ke empat
ini, Islam akan kembali lagi ke masa awal yaitunya Khilafah ‘ala Manhaj
Nubuwwah.
Menjelang kejatuhan kesultanan
Utsmaniyah telah muncul pemikiran yang bersifat individual. Kemerosotan terjadi
karena demoralisasi di berbagai bidang kehidupan muslimin. Untuk mengembalikan
peran politik Islam maka diadakanlah beberapa konferensi dan pertemuan puncak
tetapi tidak berhasil memberikan pijakan yang menyatukan negeri muslim. Malaysia
merupakan pelopor berdirinya OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang berpusat di
Jeddah setelah sebelumnya terjadi pembakaran mesjid Al-Aqsha tahun 1969.
B. Islam Satu-satunya Alternatif
Islamlah yang paling layak untuk menggantikan
seluruh konsepsi spiritual yang telah ada. Sebuah tinjauan netral telah
dilakukan oleh Ernest Gellner (sosiolog agama). Optimisme kebangkitan Islam
berdasarkan beberapa alasan, yaitu :
-
Potensi syari’ah
Islam yang merupakan warisan kemanusiaan yang diberikan ALLAH. Islam sesuai
dengan fitrah manusia dan orisinalitasnya terjaga.
-
Jumlah penduduk
muslim yang 1/5 dari penduduk dunia.
-
Sumber kekayaan
alam yang melimpah di negeri-negeri muslim.
-
Potensi warisan
sejarah.
-
Janji ALLAH bahwa
khilafah dimuka bumi nantinya akan diberikan kepada kaum muslimin.
C. Problema Struktural Dalam Kebangkitan Islam
Tiga fase besar perkembangan semua peradaban,
yaitu :
-
Fase Perumusan
Ideologi dan Pemikiran
-
Fase
Strukturalisasi
-
Fase Perluasan
(ekspansi)
Dua pemuka yang
meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitan islam adalah Abul A’la
al-Maududi dengan Jama’at Islami dan asy-Syahid Hasan al-Banna dengan Ikhwanul
Muslimin. Mereka berpendapat bahwa untuk mengembalikan kekhilafahan harus dimulai
dari bawah (aqidah, syari’ah, dan akhlaq). Perbedaannya, Maududi lebih
menunjukkan figurisme Maududi dan lemah pada kaderisasi. Ia lebih banyak
berceramah dan menulis buku daripada mencetak kader. Sedangkan Hasan Al-Banna
tidak menyebabkan figurisme, beliau lebih banyak mencetak kader daripada menulis
buku. Fenomena kebangkitan islam timbul di seluruh dunia. Gerakan Intifadhah,
gerakan yang sulit dirampas oleh Israel, Islamic Trend Movement di Tunisia,
Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di Jordania, dan
Perjuangan Mujahidin di Afghanistan.
Di Indonesia,
islam juga mengalami kemajuan dengan nadanya mata pelajaran Islam pada sekolah
menengah. Selin itu, juga partai politik yang berlandaskan dakwah dan
organisasi yang dilakukan oleh umat islam. Gejala ini memunculkan isi jama’ah yang
menimbulkan dua kecenderungan. Fenomena lain adalah munculnya fenomena sempalan
karena tersumbatnya aspirasi utama kaum muslimin.
D. Kandungan Buku
Buku ini terdiri dari tiga bab. Pertama berisi
tentang Haikal Jama’atul Muslimin (Struktur organisasi Jama’atul Muslimin).
Berisi tentang makna umat islam, urgensi syuro, sistem kepemimpinan (imamah)
Tujuan Jama’atul Muslimin.
Menurut Ustadz Husain Jabir, ada 4 tujuan
khusus jama’atul muslimin :
1. Pembentukan pribadi muslim
2. Pembentukan rumah tangga muslim
3. Pembentukan masyarakat muslim
4. Penyatuan umat islam
Tujuan umum Jama’atul Muslimin menurut penulis
buku ini :
1. Agar seluruh manusia mengabdi kepada Rabb nya
2. Senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan
mencegah yang mungkar
3. Menyampaikan da’wah islam kepada segenap umat
manusia
Menghapuskan
fitnah dari segenap muka bumi.
Memerangi
segenap umat manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar
(syahadatain)
Bab kedua,
ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin (jalan menuju jama’atul muslimin) yang
diawali dengan al-ahkam al-Islamiyah (hukum-hukum islam). Ajaran bersifat
syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan).
Sedangkan muslim memiliki al-qudrah al-juz’iyyah al-mahdudah (kemampuan
sektoral dan terbatas). Oleh karena itu, islam mesti diterapkan secara jama’i
(kolektif). Agar ajaran islam dapat diterapkan secara menyeluruh maka
diperlukan amal jama’i. Amal jama’i dapat terealisasi dengan adanya tatanan
dakwah yang memadai.
Selanjutnya,
menguraikan “Langkah Pertama Rasulullah SAW dalam Membina Jama’ah”. Enam
karakteristik pokok jama’ah, antara lain :
1.
Menyebarkan
prinsip-prinsip dakwah
2.
Pembentukan
dakwah
3.
Konfrontasi
bersenjata
4.
Sirriyah dalam
Membina Jama’ah
5.
Bersabar Atas
Gangguan Musuh
6.
Menghindari Medan
Pertempuran
Bagian kedua
ditutup dengan Tabi’at Menuju Jama’atul Muslimin. Bagian ketiga membahas
tentang beberapa jama’ah islam di medan dakwah. Ada empat jama’ah sebagai
sampel.
è Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah,
berdiri di Mesir yang disebut juga dengan salafi.
è Jama’ah Tabligh, berdiri di India yang
berorientasi pada seruan sufiyyah.
è Jama’ah Hizbut Tahrir, bermula di Yordania,
berorientasi pada seruan politik.
è Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun, didirikan di
Mesir. Memiliki gerakan da’wah yang menyeluruh (syamil). Disejajarkan dengan jama’at
Islami di Pakistan, Masyumi di Indonesia, dan Fida’iyan Islam di Iran.
E. Ustadz Husain ‘Ali Jabir Yang Saya Kenal
Beliau adalah ilmuan tulen dan aktivis dakwah
yang mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya. Ustadz ini patut dijadikan
teladan. Ia suka menitipkan anaknya kepada orang shaleh ketika ia hendak pergi.
Beliau merupakan lulusan Magister dari fakultas hadits di Madinah Al-Munawwarah