Senin, 30 Juni 2014

RESUME MENUJU JAMA’ATUL MUSLIMINHussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA

Kata Pengantar
A.  Puncak Kemerosotan Politik Islam
Keruntuhan Turki Utsmani dan penghapusan sistem Khilafah oleh Kemal Attaturk tahun 1924 merupakan klimaks kemerosotan politik islam. Dunia islam semakin tercabik dengan adanya kolonialisme barat. Makna penting PD I bagi dunia Muslim adalah kematian Kesultanan Utsmaniyah yang mengakhiri lembaga kekhalifahan yang telah berumur 1300 tahun. Meskipun kekhilafan kesultanan Utsmaniyah tidak sepenuhnya mencerminkan moralitas Islam, tetap menjadi pukulan politik terhadap muslimin. Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi memberi isyarat tentang periodesasi perjalanan umatnya.
1.    Nabuwwah, yaitu periode dimana muslimin hidup bersama Rasulullah.
2.    Khilafah atas minhaj Nabuwwah, yaitu masa khulafaur Rasyidin selama 30 tahun.
3.    Mulkan ‘Adhon, periode dimana pada raja dan penguasa menindas walaupun masih berdasarkan sistem islam dari berakhirnya Khulafaur Rasyidin sampai berakhirnya Kesultanan Utsmaniyah. Dinasti yang ada adalah dinasti Umayyah dan Abbasiyyah.
4.    Mulkan Jabbariyyah, sistem penguasa atau raja-raja yang sekuler, kita sekarang berada pada periode ini. Setelah periode ke empat ini, Islam akan kembali lagi ke masa awal yaitunya Khilafah ‘ala Manhaj Nubuwwah.
Menjelang kejatuhan kesultanan Utsmaniyah telah muncul pemikiran yang bersifat individual. Kemerosotan terjadi karena demoralisasi di berbagai bidang kehidupan muslimin. Untuk mengembalikan peran politik Islam maka diadakanlah beberapa konferensi dan pertemuan puncak tetapi tidak berhasil memberikan pijakan yang menyatukan negeri muslim. Malaysia merupakan pelopor berdirinya OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang berpusat di Jeddah setelah sebelumnya terjadi pembakaran mesjid Al-Aqsha tahun 1969.
B.  Islam Satu-satunya Alternatif
Islamlah yang paling layak untuk menggantikan seluruh konsepsi spiritual yang telah ada. Sebuah tinjauan netral telah dilakukan oleh Ernest Gellner (sosiolog agama). Optimisme kebangkitan Islam berdasarkan beberapa alasan, yaitu :
-          Potensi syari’ah Islam yang merupakan warisan kemanusiaan yang diberikan ALLAH. Islam sesuai dengan fitrah manusia dan orisinalitasnya terjaga.
-          Jumlah penduduk muslim yang 1/5 dari penduduk dunia.
-          Sumber kekayaan alam yang melimpah di negeri-negeri muslim.
-          Potensi warisan sejarah.
-          Janji ALLAH bahwa khilafah dimuka bumi nantinya akan diberikan kepada kaum muslimin.
  
C. Problema Struktural Dalam Kebangkitan Islam
Tiga fase besar perkembangan semua peradaban, yaitu :
-          Fase Perumusan Ideologi dan Pemikiran
-          Fase Strukturalisasi
-          Fase Perluasan (ekspansi)
Dua pemuka yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitan islam adalah Abul A’la al-Maududi dengan Jama’at Islami dan asy-Syahid Hasan al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin. Mereka berpendapat bahwa untuk mengembalikan kekhilafahan harus dimulai dari bawah (aqidah, syari’ah, dan akhlaq). Perbedaannya, Maududi lebih menunjukkan figurisme Maududi dan lemah pada kaderisasi. Ia lebih banyak berceramah dan menulis buku daripada mencetak kader. Sedangkan Hasan Al-Banna tidak menyebabkan figurisme, beliau lebih banyak mencetak kader daripada menulis buku. Fenomena kebangkitan islam timbul di seluruh dunia. Gerakan Intifadhah, gerakan yang sulit dirampas oleh Israel, Islamic Trend Movement di Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di Jordania, dan Perjuangan Mujahidin di Afghanistan.
Di Indonesia, islam juga mengalami kemajuan dengan nadanya mata pelajaran Islam pada sekolah menengah. Selin itu, juga partai politik yang berlandaskan dakwah dan organisasi yang dilakukan oleh umat islam. Gejala ini memunculkan isi jama’ah yang menimbulkan dua kecenderungan. Fenomena lain adalah munculnya fenomena sempalan karena tersumbatnya aspirasi utama kaum muslimin.
D. Kandungan Buku
Buku ini terdiri dari tiga bab. Pertama berisi tentang Haikal Jama’atul Muslimin (Struktur organisasi Jama’atul Muslimin). Berisi tentang makna umat islam, urgensi syuro, sistem kepemimpinan (imamah) Tujuan Jama’atul Muslimin.
Menurut Ustadz Husain Jabir, ada 4 tujuan khusus jama’atul muslimin :
1.      Pembentukan pribadi muslim
2.      Pembentukan rumah tangga muslim
3.      Pembentukan masyarakat muslim
4.      Penyatuan umat islam
Tujuan umum Jama’atul Muslimin menurut penulis buku ini :
1.      Agar seluruh manusia mengabdi kepada Rabb nya
2.      Senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar
3.      Menyampaikan da’wah islam kepada segenap umat manusia
Menghapuskan fitnah dari segenap muka bumi.
Memerangi segenap umat manusia sehingga mereka bersaksi dengan persaksian yang benar (syahadatain)
Bab kedua, ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin (jalan menuju jama’atul muslimin) yang diawali dengan al-ahkam al-Islamiyah (hukum-hukum islam). Ajaran bersifat syamil-kamil-mutakamil (menyeluruh, sempurna, dan saling menyempurnakan). Sedangkan muslim memiliki al-qudrah al-juz’iyyah al-mahdudah (kemampuan sektoral dan terbatas). Oleh karena itu, islam mesti diterapkan secara jama’i (kolektif). Agar ajaran islam dapat diterapkan secara menyeluruh maka diperlukan amal jama’i. Amal jama’i dapat terealisasi dengan adanya tatanan dakwah yang memadai.
Selanjutnya, menguraikan “Langkah Pertama Rasulullah SAW dalam Membina Jama’ah”. Enam karakteristik pokok jama’ah, antara lain :
1.                   Menyebarkan prinsip-prinsip dakwah
2.                   Pembentukan dakwah
3.                   Konfrontasi bersenjata
4.                   Sirriyah dalam Membina Jama’ah
5.                   Bersabar Atas Gangguan Musuh
6.                   Menghindari Medan Pertempuran
Bagian kedua ditutup dengan Tabi’at Menuju Jama’atul Muslimin. Bagian ketiga membahas tentang beberapa jama’ah islam di medan dakwah. Ada empat jama’ah sebagai sampel.
è Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah, berdiri di Mesir yang disebut juga dengan salafi.
è Jama’ah Tabligh, berdiri di India yang berorientasi pada seruan sufiyyah.
è Jama’ah Hizbut Tahrir, bermula di Yordania, berorientasi pada seruan politik.
è Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimun, didirikan di Mesir. Memiliki gerakan da’wah yang menyeluruh (syamil). Disejajarkan dengan jama’at Islami di Pakistan, Masyumi di Indonesia, dan Fida’iyan Islam di Iran.

E.  Ustadz Husain ‘Ali Jabir Yang Saya Kenal

Beliau adalah ilmuan tulen dan aktivis dakwah yang mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya. Ustadz ini patut dijadikan teladan. Ia suka menitipkan anaknya kepada orang shaleh ketika ia hendak pergi. Beliau merupakan lulusan Magister dari fakultas hadits di Madinah Al-Munawwarah